Sejarah Istana Negara Yogyakarta

Istana Presiden Yogyakarta. Foto: Budi.
Istana Kepresidenan Yogyakarta yang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Agung merupakan bagunan bersejarah yang dibangun 1825. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 4,2 hektar terletak berhadapan dengan bekas benteng VOC Fort Vredeburg di tepi jalan Jenderal Ahmad Yani.
Memasuki pintu gerbang utama, akan diosambut oleh Patung Raksasa penjaga pintu "Dwarapala" setinggi 2c meter yang berasal dari sebuah biara candi Kalasan. Sebuah monumen batu andesit disebut "Dagoba" terletak di lapangan rumput tepat di depan serambi depan istana, tingginga 3,5 meter berasal dari desa Cupuwatu di daerah Prambanan. Monumen ini melambangkan kerukunan beragama yang berbentuk "Lingga" sebagai lambang Hindu Siwa dan Stupa sebagai lambang Budha. Disamping itu dalam komplekls istana ini terdapat 62 arca Budha, Siwa dan lain-lain yang tersebar di sudut-sudut halaman.
Istana ini terdiri dari beberapa ruangan-ruangan besar . Ruang Garuda adalah ruangan besar sebagai ruangan resmi untuk menerima tamu-tamu, terletak tepat di tengah-tengah gedung utama, ruangan setinggi tujuh meter dengan tiga rangkaian lampu kandelier bertingkat, empat buah cermin tua tergantung dan permadani merah yang terhampar di bagian tengah mempertegas kesan resmi dari ruangan ini. Diruangan ini dulu Presiden Indonesia mengadakan pertemuan dan pembicaraan resmi dengan Kepala-kepala Negara atau Kepala Pemerintahan yang menjadi tamunya.
Ruangan Soedirman adalah ruangan yang banyak memainkan peranan dalam sejarah karena disinilah Jenderal Soedirman berpamitan ketika berangkat bergerilya dan sekembalinya dari bergerilya beliau melapor kepada Presiden dan Wakil Presiden. Di ruangan ini pula dipasang patung serta Jenderal Soedirman dan sekarang dipergunakan untuk ruang duduk para tamu-tamu terletak di sebelah kanan dari Ruang Garuda
Selanjutnya adalah ruang Diponegoro adalah ruangan yang dipergunakan untuk duduk para tamu pada acara-acara tertentu yang sifatnya umum. Terletak disebelah kiri Ruang Garuda, diruangan ini dipasang lukisan Pangeran Diponegoro untuk mengenang sejarah kepahlawanannya.Kemudian ruang Makan VVIP terlentak diantara Ruang Garuda dengan Ruang Kesenian. Suasana ruangan ini hangat dengan permadani warna merah dari Esfahan, di sekelilingnya dipasang lukisan-lukisan lama koleksi istana, serta tirai pintu yang menjuntai senada dengan warna permadani dihias bingkai kayu jati ukiran Jepara menambah suasana akrab dalam ruangan ini.
Ruang Kesenian digunakan untuk pergelaran kesenian bila ada Tamu Negara berkunjung ke Yogyakarta. Selain itu juga digunakan untuk memamerkan barang-barang kerajinan tradisional misalnya batik, kulit, keramik, perak dan hasil industri kerajinan lain. Wisma Negara dimulai pembangunan pada bulan Oktober 1980, merupakan bangunan baru di lingkungan Istana Kepresidenan Yogyakarta. Maksud dibangunnya gedung ini adalah untuk penginapan rombombongan Tamu Negara yang berkunjung dan bermalam di Istana Yogya.
Selanjutnya, Gedung Seni Sono terletak di sebelah selatan Gedung Agung, bangunan yang dulunya milik Departemen Penerangan RI ini diserahkan pengelolaanya kepada pihak Gedung Agung pada tanggal 25 September 1995. Oleh pengelola Gedung Agung direnovasi dan diremikan pemakainya pada tahun 1998. Gedung ini berfungsi sebagai tempat penyelenggraan acara-acara seremonial khusus serta dirancang sebagai gedung informasi dan penyimpanan barang-barang koleksi istana dari berbagai tamu negara yang berkunjung. (krjogja.com)
Entries(RSS)