Malioboro's Festival Official Web

Promosi sebatas media luar ruang

Banner Festival Malioboro 2009. Foto: Budi.

Banner Festival Malioboro 2009. Foto: Budi.

"Sayang tak tahu acara Festival Malioboro ini". Adi Soetrisno, bapak paruh baya dari Jakarta ini mengaku kecewa karena tak sempat merasakan kemeriahan Festival Malioboro 2009. Ditemui disela-sela waktu tunggu keberangkatan pesawat di Bandara Adisucipto Minggu pagi, pengusaha tambang batubara ini menuturkan bahwa dirinya berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu kepentingan bisnis.

Jogjakarta, menurut pengusaha yang mengaku pemerhati pariwisata ini, memiliki keragaman obyek wisata. Ada wisata budaya, wisata alam pantai, wisata alam gunung. Semestinya acara-acara budaya tradisional lebih dikedepankan di Jogja, sehingga jadi pembeda dibanding kota besar lain seperti Jakarta atau Bandung.

Acara budaya seperti Festival Malioboro, akan lebih menarik bila gencar di promosikan ke luar Jogja. Sehingga wisatawan dari luar kota bisa menyusun agenda jauh hari sebelumnya. Hal ini tak terhindarkan menurut penggemar wisata kuliner ini, karena wisata sudah menjadi kebutuhan bagi banyak kalangan.

Ketika permasalahan kurangnya promosi Festival Malioboro 2009 ini dikonfirmasikan kepada penyelenggara, salah seorang panitya menyatakan supaya masyarakat memahami bahwa kesadaran untuk melakukan promosi acara ini masih sebatas pada media luar ruang. Dilain kesempatan, penyelenggara akan berusaha mempersiapkan diri lebih baik, serta merangkul sebanyak mungkin kalangan media untuk mempublikasikan ikon baru pariwisata Jogja ini ke seluruh Nusantara, bahkan bila perlu ke manca negara.

Sebarkan artikel ini
  • Facebook
  • E-mail this story to a friend!
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • Digg
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Blogosphere News
  • SphereIt
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks

Tagged as: , ,

5 Responses »

  1. saya mencoba mengklarifikasi pendapat kalau Festival malioboro hanya promosi luar ruang/baliho. Setahu saya, meski ujudnya kerjasama panitia juga sudah kerjasama dengan media cetak (Kedaulatan Rakyat ) dan radio-radio. Hanya saja, barangkali panitia berpendapat dua media ini cukup sebagai sarana promosi.
    Ya siapa tahu to, ada yang bawa KR ke Aceh , Kalimantan, Papua atau dibawa naik haji ke Mekkah khan bisa terpromosikan sampai luar kota dan luar negeri. Siapa tahu juga radio-radio lokal ini bisa di dengar di Ingggris, khan beberapa diantara mereka sudah streaming ( meski server streamingnya terkadang sering macet..). Ya ,siapa tahu aja. Kita harus hargai dong usaha panitia , termasuk jika panitia merasa tak perlu membikin media center. Lha wong tanpa media centre saja bisa jalan kok. Kecuali kalau tanpa ijin, tanpa sound sistem atau tanpa panitia barangkali Festival ini tidak jalan. Bagaimana pun tak ada perawan yang tak retak.. Iya to? He2x Terima kasih..

  2. Setuju dengan Mas Irawan. Media centre memang gak penting, sama seperti wartawan yang cuma mbodrex sana-sini.

    Salut buat panitya penyelenggara ... kapan bagi-bagi ? he he he....

  3. nek media center nggak penting, sama seperti mas/mbak mbelgedes yang nggak penting omong 'kapan bagi-bagi',, wes mbodrex, ra nduwe isin meneh!

  4. gimana neh panitia? mau nanggapi komentar dari pembaca ? Tapi saya gak setuju dengan pendapat mbelgedes yang menuduh wartawan kerjanya cuma mbodrex sana sini. Karena masih banyak wartawan yang bekerja tanpa harus memikirkan 'bodrexan'.

  5. Setuju dan dukung koment Mas Irawan.

    "Lha wong tanpa media centre saja bisa jalan kok. Kecuali kalau tanpa ijin, tanpa sound sistem atau tanpa panitia barangkali Festival ini tidak jalan"

    tambahin satu lagi (ndak lali) : tanpa dana rakyat ratusan juta via APBN dan APBD ... ra mungkin EO ne gelem mroyek .... hui hi hihi ...

    mumbuk tenan ki Dab !