Malioboro's Festival Un-Official Website

Didik Nini Thowok Ngamen di Malioboro

ForumBudaya.org  -  Jumat, 09 Januari 2009

Didik Ninik Thowok Ngamen di Malioboro

Didik Ninik Thowok Ngamen di Malioboro

YOGYAKARTA, JURNALNSIONAL.COM — Seniman tari yang menjadi maskot penari serba bisa asal Yogyakarta, Didik Nini Thowok, "ngamen" di kawasan paling terkenal di Kota Yogyakarta, Malioboro, sebagai atraksi kesenian pembuka menjelang pesta perayaan malam pergantian tahun di Yogyakarta.

Diiringi beragam aliran musik mulai dari tradisional, pop, rock, dangdut hingga alternatif yang disuarakan dari dua `speaker` di sisi kanan dan kiri sebuah panggung sederhana, Didik bersama tiga penari dari sanggar tari Natya Lakshita miliknya melenggak-lenggokkan badan mengikuti alunan musik.

Gerakan tari yang lemah-gemulai dan terkadang lucu dari keempat laki-laki yang sengaja berdandan ala perempuan dengan kebaya dan make-up tebal itu mau tidak mau membuat siapa pun yang melewati daerah di dekat titik nol kilometer memalingkan muka sekadar mencari tahu apa yang sedang terjadi di tengah kerumunan orang.

"Saya menggagas ini sudah sejak dua tahun lalu, kemudian ide itu saya ajukan ke Dinas Pariwisata dan disetujui.

Sekarang sudah menjadi `trade mark` menjelang pergantian tahun untuk mengembangkan pariwisata," kata Didik di sela-sela pementasannya.

Gagasan menggelar atraksi tari di trotoar tersebut terinspirasi dari berbagai perjalanan Didik ke luar negeri, karena di hampir setiap negara yang ia kunjungi selalu ada acara "street festival" yang banyak diminati wisatawan.

"Acara-acara festival jalanan itu dikemas dengan sangat bagus di luar negeri, sehingga saya pun ingin mewujudkannya di sini," katanya.

Pada acara tersebut, Didik tidak memungut biaya sepeser pun kepada penonton untuk menikmati tarian yang dibawakan oleh pencipta tari kreasi baru berjudul "Dwi Muka" itu.

Hanya saja, Didik menyediakan sebuah kotak besar bewarna biru yang difungsikan untuk menampung uang sumbangan dari penonton, namun ada syaratnya, yaitu uang sumbangan minimal Rp1.000.

Ia mengistilahkan sumbangan tersebut sebagai tiket menuju surga karena uang yang terkumpul akan disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.

Pada pesta perayaan pergantian tahun depan, Didik berencana mengembangkan konsep acara ngamen di Malioboro tersebut lebih besar yaitu ngamen di tiga kota, Yogyakarta, Solo dan Semarang.

"Inginnya tahun depan bermain di Joglosemar (Yogyakarta, Solo dan Semarang)," katanya. (Ant)

Sumber : ForumBudaya.org


Tagged as: , ,

Comments are closed.