Dewa Cai Shen Memberi Napas Malioboro
Kompas - Senin, 9 Februari 2009 | 13:21 WIB
Pekan Budaya Tionghoa di Jogja
Oleh Defri Werdiono dan Lukas Adi Prasetya

Barongsai di Jogja
Dari atas sana, leluhur masyarakat Tionghoa barangkali tersenyum melihat keturunannya mampu menghidupkan kembali Malioboro, layaknya 200 tahun silam, tatkala mereka menghuni sudut-sudut Ketandan. Bahkan, saat ini anak-anak Tionghoa mampu merangkul berbagai subkultur lain menjadi satu kesatuan.
Lihat saja Dewa Cai Shen atau Dewa Rezeki yang membawa wadah mirip uang China tail emas tak lagi hanya berada di dalam ruang persembahyangan. Ia membaur dengan anak bangsa yang lain, mulai dari Aceh, Kalimantan Barat, Jawa, Maluku Utara, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Sambil terus menebar senyum, sang Dewa-yang di mata orang kebanyakan mirip hakim Bao (Cau Bau Kan)-pun menunjukkan kemurahannya dengan cara menyebarkan angpao kepada warga yang berjejal di tepi jalan. Benar-benar mirip prosesi garebek yang menjadi salah satu budaya asli Yogyakarta.
Di belakang Cai Shen tampak gadis-gadis cantik ala Yunan yang mengenakan topi dan pakaian warna terang, merah dan kuning. Menyusul pasukan sepeda onthel dan sepeda tinggi, atraksi naga dan barongsai (ada lima kelompok yang tampil, yakni Hoo Hap Wee/Budi Abadi, Naga Selatan, Singa Mataram, Naga Barongsai Beskalan, dan Isakuiki).
Menyusul beberapa kesenian asal Nusantara, seperti para mahasiswa asal Bali dalam Sanggar Saraswati; Reog Satria Muda Budaya asal Bebekan, Bantul; asrama mahasiswa Aceh; Kalimantan Barat; Nusa Tenggara Barat melalui Sanggar Arumbanga; Maluku Utara dalam Sanggar Sabbua; hingga para waria yang tergabung dalam Kebaya dan Sanggar Natya Laksita Didik Nini Thowok.
Perhelatan Pekan Budaya Tionghoa (PBT) benar-benar makin menemukan muaranya. Karnaval budaya yang dimulai dari taman parkir Abu Bakar Ali sampai Jalan Ahmad Yani, Sabtu (7/2) sore, hanya salah satu bagian dari perhelatan tersebut.
Seksi acara PBT Gutama Fantoni dan ketua panitia Anna Haryadi Suyuti mengatakan, "Kita tidak bisa lagi bicara etnis, semua adalah anak bangsa. Budaya Tionghoa pun terus membumi. Bukankah sebagian pelaku budaya Tionghoa juga orang-orang setempat."
Wayang potehi, misalnya, kini pemainnya malah orang pribumi. Enam orang dari kelompok Fuk Hoo An asal Gudo, Jombang, Jawa Timur, pengisi tunggal pentas wayang potehi di PBT, semuanya pribumi. Tiga dari enam orang di kelompok itu adalah dalang, sedangkan tiga lainnya pemain pengiring. Sesomo (64), Purwanto (43), dan Sutarto (43) ketiganya sudah malang melintang di Jawa Timur. Sesomo yang asli Jombang merupakan dalang wayang potehi tertua ketiga di Indonesia.
Mereka main secara kompak. Jika Sesomo ndalang, Purwanto memukul tambur dan Sutarto memukul gembreng. Dalam dunia grup wayang potehi, gonta-ganti peran sudah biasa. Bahkan, sang dalang masih terlibat dengan urusan menata panggung.
Jumlah penekun wayang potehi yang sejumput menjadikan mereka saling memahami. Tak perlu latihan, kala saling dipasang-pasangkan pun langsung jalan. Akan tetapi, ini juga merunut faktor bahwa wayang potehi juga punya alur dan pakem musik yang baku. Saat ini, menurut Sesomo, hanya ada 50 penggiat wayang potehi di Indonesia (10 di antaranya dalang), dan enam orang yang pentas di PBT, adalah bagian dari 50 orang tersebut. Namun, sisi positifnya, mereka tak perlu berebut lahan pentas di kelenteng. Grup wayang potehi paling banyak pentas di kelenteng saat ulang tahun kelenteng bersangkutan. Sekali di kelenteng, pentas bisa digelar 2-3 bulan dengan cerita berbeda tiap malam. "Bulan-bulan sepi biasanya tiga bulan terakhir pada akhir tahun," ujar Purwanto. Menyesuaikan penonton yang nyaris semuanya tidak mengerti bahasa Hokkian (salah satu bahasa suku di China), pentas kini banyak dibawakan dalam bahasa Indonesia. Namun, kadang berselang-seling. Selain di kelenteng, grup kadang main di mal atau instansi. Begitulah, baik dalam PBT maupun masa-masa sebelumnya kebudayaan Tionghoa telah melebur dengan budaya Nusantara. Sultan Hamengku Buwono X (dalam pembukaan PBT) mengatakan, budaya Tionghoa berbaur dan bergabung dengan budaya asli tanpa campur tangan pemerintah, artinya melalui akulturasi.
Sekarang tinggal bagaimana mengembangkannya. Bukankah saat itu Sultan juga meminta seniman Tionghoa terpanggil menggarap karya cipta baru di bidang seni yang menggambarkan wujud akulturasi budaya abad XXI guna memperkaya khazanah budaya Indonesia. Hal itu karena budaya Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Nusantara....
Sumber: Kompas













Entries(RSS)