Akar Budaya yang Mulai Terpinggirkan

Pawai Budaya Tradisional. Foto: Budi
Festival Malioboro 2009 ini merupakan event promosi kebudayaan pertama yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang baru saja dimulai ini diharapkan dapat semakin mempromosikan kawasan Malioboro dikalangan wisatawan dalam negri maupun mancanegara.
Menurut Bpk Sukarjo, anggota Dewan Kebudayaan Kota seksi Tradisi dan Adat Istiadat, festival Malioboro ini merupakan festival besar yang menggabungkan tiga jenis kebudayaan, yaitu kebudayaan tradisional, kebudayaan peralihan, dan kebudayaan masa depan. “Acara ini dilenggarakan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat akan masa depan tanpa meninggalkan akarnya,” tutur Sukarjo.
“Malioboro sebagai pusat kota Yogyakarta memang sering sekali dipilih untuk menjadi lokasi sebuah acara. Namun yang sering terjadi adalah acara-acara ini jarang sekali bentuk-bentuk kesenian tradisional Yogyakarta,” lanjut Sukarjo. Lebih lanjut Sukarjo menyatakan bahwa Budaya Jawa mempunyai banyak simbol-simbol yang berarti dalam kehidupan, contohnya adalah Ubo Rampe yang terdapat dalam Sego Tumpeng. Sego berasal dari kata “seko Gusti Allah”, dan Tumpeng yang mempunyai arti “Tumindake biar lempeng”. Kemudian kata sekul berasal dari kata pemberitaan atau katakanlah, kata sekul ini mempunyai arti “Manusia itu hidup dari rejeki Allah, jadi katakanlah itu kepada semua orang”.
Semoga dengan adanya Festival Malioboro ini dapat menjadi contoh sebuah acara yang tetap menampilkan bentuk-bentuk kesenian tradisional sebagai akar kebudayaan masyarakat Yogyakarta. (JoJo)
Entries(RSS)